May 262008
 

Di sela-sela kesibukan gw (cieh..) dalam menyiapkan INC 2008 yang tinggal hitungan hari, gw masih sempat membaca BULETiN Edisi V/2008 (buletin terbaru BINUS) di angkot menuju rumah. Edisi ini mengangkat tema “pendidikan” ditandai dengan banyaknya artikel yang mengupas tentang intelegensi, pendidikan serta entrepreneur(?).

Ada satu artikel yang menarik perhatian gw ๐Ÿ˜€ Tepatnya artikel yang berjudul Intelegensi Manusia dan Entrepreneurship* yang ditulis oleh BINUS Entrepreneurship Center. *) ok! gw barusan mencet sequence-of-backspace sampai tiga kali buat menuliskan kata entrepreneurship dengan benar! :-S

Artikelnya sendiri membahas mengenai pentingnya memiliki berbagai jenis intelegensi (analytical, creative dan practical) agar bisa menjadi entrepreneur yang sukses. Well, menurut gw isinya memang cukup bagus. Kecuali satu hal… ilustrasi/analogi yang digunakan untuk menyampaikan gagasan si penulis. Berikut kutipan isi ilustrasi tersebut:

Alkisah terdapat dua orang yang sedang berjalan-jalan di hutan yang tiba-tiba bertemu dengan seekor beruang hutan dan mengejar mereka dari arah yang berlawanan. Salah satu orang tersebut adalah seorang profesor fisika (Di BINUS enggak ada kan?) dan satu orang lainnya lagi adalah seorang entrepreneur. Karena keahliannya yang sangat terasah tinggi dengan otomatis sang profesor langsung menghitung estimasi kecepatan lari beruang dan memperhitungkan pada kecepatan berapa mereka dapat terhindar dari kejaran beruang tersebut. kemudian dia berkata, “Berhenti berlari. Tidak mungkin kita dapat terhindar dari kejaran beruang. Dia akan menangkap kita dalam 15 detik.” Akan tetapi, sang entrepreneur tetap berlari. Ketika sang profesor berteriak bertanya mengapa tetap berlari, sang entrepreneur berteriak sambil berlari, “Kamu betul – saya tidak mungkin berlari lebih cepat dari beruang, tapi saya tidak perlu melarikan diri dari beruang, yang penting saya lebih cepat dari kamu.”

Pesan moral yang disampaikan dari cerita di atas, seperti yang dituliskan di artikel tersebut, adalah: “Intelegensi merupakan salah satu faktor sukses, akan tetapi bukan intelegensi yang diukur dengan standar tes IQ. Yang diperlukan adalah intelegensi yang berguna untuk menghadapi tantangan hidup, tantangan yang dihadapkan dengan perubahan dunia yang selalu berubah.”

The idea seems good and right. But I have another opinion. Meskipun maksud yang ingin disampaikan cukup bagus, tapi bagi gw cerita itu lebih terlihat STUPID ketimbang inspiratif.

Pesan tak bermoral (menyesatkan) dari cerita di atas:

Profesor lebih bodoh dari entrepreneur.
Sarkastik, tapi ini kesan yang pertama kali gw dapatkan (meskipun maksudnya tidak begitu). Generalisasi ini bisa timbul dengan mudah pada otak siapapun yang membaca cerita tersebut. Padahal kalau ditelaah dengan benar, yang bodoh adalah profesor tersebut, bukan semua/kebanyakan profesor.

Ada yang tahu kenapa perlu ada kalimat “Di BINUS enggak ada kan?” dalam cerita di atas? Gw juga gak tahu, tapi gw ngebayangin kalimat itu ditulis agar profesor betulan yang ada di BINUS nggak tersinggung :))

Selain itu sepertinya orang yang gak pernah sekolah pun ngerti dan gak perlu mikir untuk kabur secepat mungkin kalau dikejar beruang. Gw gak tahu apa yang dipikirkan oleh si profesor pada saat itu, tapi tindakan ‘bodoh’ si profesor bisa terjadi pada siapapun, so why a profesor? Apa maksudnya orang yang logika dan matematikanya hebat itu bodoh?

Si profesor tidak mengambil keputusan logis! Kalau ada yang bilang “pasrah jika ada beruang yang lebih cepat menghampiri kita” sesuai dengan penjelasan si profesor adalah sesuatu yang logis, maka gw akan mempertanyakan definisi logis yang dimaksud :)) Bagaimana bisa sesuatu bertentangan dengan kenyataan disebut sebagai sesuatu yang logis? Kenapa gw bisa bilang begitu?
1. Adalah sifat alami manusia dan makhluk hidup untuk mempertahankan dirinya.
2. Keputusan profesor tidak meningkatkan peluang hidupnya.
Jadi, di mana sisi logis keputusan si profesor? Si profesor sama sekali tidak menunjukan sisi “intelek” sebagaimana yang diinginkan si pembuat cerita.

Entrepreneur adalah orang yang jahat!
… atau setidaknya suka egois dan memanfaatkan/mengorbankan teman sendiri. Karena gw bukan orang bisnis, jadi gw gak tahu apakah entrepreneur memang seperti ini (generalisasi kembali timbul di sini).

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya gw menjumpai cerita ini, sebelumnya gw juga udah pernah membaca cerita yang sama di artikel dan buku lain (sayangnya gak inget di mana). BEDANYA yang gw baca dulu nggak menggunakan profesi profesor dan entrepreneur, hanya sekedar dua orang pengembara di hutan. So, why professor vs. entrepreneur?

  7 Responses to “Professor vs. Entrepreneur?”

  1. Wah ha ha ha…kesan pertama pada saat membaca tulisan ini. Saya termasuk orang yang juga tidak suka hal-hal seperti ini, ketika orang-orang mengatakan bahwa Entrepreneur lebih baik daripada orang-orang yang berpikir logis. Hidup ini kan tidak hanya tentang Entrepreneur ๐Ÿ˜€

  2. — ini comment dplt yang hilang tempo hari karena proses rollback database —

    Kalo yang gw tangkep, ada 4 hal yang salah disitu:

    1. cerita tersebut terlalu berat sebelah kepada sisi entrepreneur. Dia mau ngasih analogi, tapi ga ‘membungkus’. Ya, kira-kira begitu lah maksudnya. Dua dunia itu beda, dan tentu saja ga bisa dibilang lebih bagus ini / lebih bagus itu. Mungkin maksudnya pengen menyosialisasikan (moga2 EYD-nya bener) budaya entrepreneurship di BINUS or else (ya, sepertinya sedikit banyak gw bisa nebak sapa yang bikin) karena ga laku? ๐Ÿ˜›

    2. Gw melihat ada generalisasi (atau penyempitan?) makna disini, seakan-akan berusaha mendiskritkan fisika (maupun physical/cognitive science or related). FYI, ada banyak profesor fisika yang juga seorang entrepreneur hebat. Contohnya: Wolfram. Gw ga bisa bayangkan gimana kalo dia baca artikel itu ๐Ÿ˜› (antara berlari dengan tidak berlari = jogging?)

    3. Dengan cerita seperti itu, gw jadi berpikir apakah BINUS memang memiliki banyak orang seperti profesor tersebut, sehingga harus ‘digugah’ dengan tulisan semacam ini. Memang, sekarang jamannya orang pada suka cari sensasi tapi yang pasti editor-nya ga banget

    4. ‘Profesor lebih bodoh dari entrepreneur’, ini juga pernyataan yang salah. Profesor adalah orang yang sangat ahli di bidangnya, jadi ada juga Profesor di bidang Entrepreneurship. Profesor lebih bodoh dari Profesor? :))

    PS: (bukan I love you) maap kalo campur2 bahasanya, ga da fitur bold/italic disini

  3. โ€œBerhenti berlari. Tidak mungkin kita dapat terhindar dari kejaran beruang. Dia akan menangkap kita dalam 15 detik.โ€ –> kata profesor

    sang entrepreneur berteriak sambil berlari, โ€œKamu betul – saya tidak mungkin berlari lebih cepat dari beruang, tapi saya tidak perlu melarikan diri dari beruang, yang penting saya lebih cepat dari kamu.โ€

    –> lima belas detik kemudian, sang enterpreneur sudah tertangkap beruang, dan benar, dia memang “lebih cepat” dari sang profesor (“lebih cepat” menghadap sang Pencipta) :P.

    baca deh http://www.ehow.com/how_240_survive-encounter-with.html

    diluar konteks,

    mungkin bagi sang enterpreneur, hidup ini adalah kompetisi. namun sayang, dia lupa bahwa manusia tidak dapat hidup seorang diri. two will be better than one.

    sedangkan bagi sang profesor, sesuatu adalah pasti dan benar menurut perhitungan. namuns sayang, dia lupa bahwa hidup adalah perjuangan. We accomplish nothing when we do nothing. Do something and we will get more than something.

    Pesan moral yang saya tangkap adalah : listen to what the expert says, and combine it with our own. surely, the wisdom will be ours, and in someway, we still are the winner in this living competition.

    panjang yah………….. ๐Ÿ˜€

  4. thx artikelnya bagus,kk.:D

  5. setiap orang punya keahlian dan bidang2 masing2. profesor ga lebih baik dari entrepreneur atau sebaliknya. jika membandingkan profesor fisika dg entrepreneur ibarat membandingkan tomat dg jeruk, mereka punya rasa yg berbeda.

    yg sepadan adalah membandingkan profesor A dg B yg juga sama2 di bidang fisika. atau entrepreneur A dg B yg juga bergerak di bidang yg sama.

    semua pekerjaan itu baik, yang penting kita mencintai dan senang melakukannya.

  6. As an algorist that have been retired and on the way to become entrepreneur (amin), my opinion:
    1. ceritanya aneh dan ga gt nyambung ama pesan moralnya
    2. tanpa adanya profesor, ga ada ada entrepreneur dan sebaliknya. so semua profesi itu penting, yang nentuin sukses atau ga adalah gimana cara masing2 individu menjalani profesinya
    3. buat entrepreneur, bertindak lebih cepat dibanding yang lain adalah wajib hukumnya, tp menurut g di bidang ilmu juga mirip, misal shu2 dah belajar algo dr TK, skrg kan ud lain skill algonya ;))

    -just my 2 cents-

  7. materi yang menarik buat gue … thx …

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)